7 Tradisi Pernikahan Eropa, Romantis & Penuh Simbol

Bagi dua mempelai, pernikahan merupakan momen sakral yang menandai awal kehidupan baru bersama. Namun, lebih dari sekadar upacara penyatuan dua insan yang saling mencintai, pernikahan juga sarat akan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, mencerminkan nilai budaya dan simbolisme yang kaya makna.

Tak hanya di Indonesia, berbagai negara di dunia pun memiliki tradisi pernikahan unik yang khas, termasuk di Eropa. Benua ini dikenal dengan ragam upacara pernikahan yang romantis, simbolis, dan penuh makna sejarah. Dari Skotlandia hingga Yunani, setiap tradisi mengandung filosofi yang memperkaya makna pernikahan itu sendiri.

Nah, jika Anda penasaran, yuk simak informasi selengkapnya di artikel berikut ini!

1. Garter

Beberapa waktu lalu, tradisi garter sempat mencuri perhatian publik setelah terlihat dalam momen pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier

Dalam salah satu cuplikan acara, Luna Maya tampak mengenakan garter, sebuah pita elastis yang dikenakan di paha, sementara Maxime melepaskannya dari balik gaun pengantin dengan cara unik, lalu melemparkannya ke arah kerumunan tamu pria. 

Aksi ini mengundang rasa penasaran banyak orang, dan ternyata, adegan tersebut merupakan bagian dari tradisi lama yang berasal dari budaya Eropa, khususnya Inggris.

Dilansir dari website The Knot, dulu garter terbuat dari pita elastis yang dikenakan di paha untuk menahan stoking pengantin. Memasuki era modern, fungsi garter sudah tergantikan dengan material seperti pantyhose, sehingga kini sifatnya lebih ke dekoratif atau sentimental saja.

2. Der Polterabend 

Menurut informasi dari artikel Kompasiana, Der Polterabend merupakan tradisi memecahkan piring atau ubin keramik di depan rumah calon pengantin. Tradisi ini dilakukan pada malam sebelum hari pernikahan.  

Filosofinya, pecahan-pecahan tersebut dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan bagi pasangan yang akan menikah tersebut. Dipercaya bahwa dasar dari tradisi ini adalah peribahasa Jerman yang berbunyi “Scherben bringen Glück” yang berarti “pecahan membawa keberuntungan”. 

Setelah prosesi pecah piring selesai, pasangan pengantin akan membersihkan pecahan tersebut bersama-sama. Ritual ini bukan sekadar simbol kerjasama, tetapi juga latihan kecil menghadapi kekacauan dalam kehidupan rumah tangga mereka kelak.  

3. Handfasting

Berasal dari daerah Celtic, handfasting adalah tradisi pernikahan kuno di mana tangan pasangan pengantin diikat menggunakan pita, tali, atau kain berwarna selama prosesi pemberkatan, sebagai lambang penyatuan dua jiwa dan komitmen mereka untuk hidup bersama.

 Menurut Brides, tradisi handfasting sudah ada sejak sekitar 7.000 SM di Irlandia. Awalnya, handfasting bukan hanya simbol pernikahan, tetapi juga merupakan tradisi pertunangan resmi. 

Di masa pertunangan itu, pasangan akan hidup bersama selama satu tahun sebagai periode “uji coba”, lalu mereka bisa memutuskan apakah bisa lanjut ke pernikahan atau tidak. 

Namun kini, tradisi tinggal bersama ini sudah tidak dilakukan lagi, dan handfasting hanya dimasukkan sebagai bagian dari upacara pernikahan,baik dalam konteks sekuler maupun religius. Prosesnya melibatkan:

  • Saling menggenggam tangan;
  • Pembacaan sumpah;
  • Pengikatan tangan menggunakan cord atau ribbon (sekitar satu yard panjang);
  • seringkali menggunakan bahan simbolik seperti tali yang dirangkai dari kain berkesan atau dihiasi manik-manik;
  • Setelah diikat, pasangan dapat memilih untuk tetap terikat hingga malam hari atau hanya selama upacara berlangsung;
  • Setelah upacara, tali tersebut disimpan sebagai kenang‑kenangan

4. Crowning Ceremony

Ritual crowning ceremony berasal dari Yunani kuno, di mana mahkota dalam upacara pernikahan bukan hanya aksesori, tetapi lambang kehormatan. Menurut DMG Ceremonies, pasangan yang menikah diibaratkan sebagai raja dan ratu dari kerajaan baru mereka, keluarga yang sedang mereka bangun bersama. Inilah mengapa, mereka dimahkotai sebagai simbol tanggung jawab untuk memimpin rumah tangga dengan cinta, kebijaksanaan, dan integritas.

Dua mahkota tersebut, yang disebut stefana, dihubungkan oleh seutas pita, tanda bahwa dua individu kini telah menjadi satu. Pita itu bukan sekadar pengikat benda, tetapi pengingat bahwa cinta sejati selalu menyatukan, bukan memisahkan.

Biasanya, anggota keluarga atau sahabat terdekat akan memindahkan mahkota itu dari kepala satu pasangan ke yang lain sebanyak tiga kali. Angka tiga ini pun juga memiliki makna, yaitu merujuk pada Tritunggal Kudus, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai bentuk restu bagi pernikahan tersebut.

Di masa lampau, mahkota ini dibuat dari daun zaitun dan bunga lemon, yang dipersembahkan kepada dewi cinta, Aphrodite. Kini, bahan-bahannya mungkin lebih modern, namun tetap memiliki makna yang sama, yaitu melambangkan kekuatan cinta, ketulusan niat, dan penyatuan dua jiwa dalam satu janji suci.

5. The Money Dance

Di beberapa negara Eropa Timur seperti Polandia, Hungaria, dan Ukraina, terdapat tradisi pernikahan yang unik dan penuh makna yang dikenal dengan nama The Money Dance. 

Dalam tradisi ini, para tamu akan bergiliran menari bersama pengantin. Biasanya, para tamu akan menyelipkan sejumlah uang ke gaun pengantin wanita atau menyelipkannya ke jas pengantin pria. 

Uang yang diberikan bukan sekadar hadiah, melainkan simbol restu, harapan, dan dukungan finansial bagi kehidupan baru pasangan tersebut. 

 Di Polandia, bahkan ada prosesi di mana tamu pria harus “membayar” untuk berdansa dengan pengantin wanita, sebelum akhirnya sang suami “mengambil alih” istrinya, sebagai simbol komitmen dan penyatuan. 

Tradisi ini masih bertahan hingga kini di komunitas diaspora Eropa Timur di berbagai belahan dunia, menjadikannya sebagai salah satu ritual yang mempererat nilai kekeluargaan dan solidaritas sosial dalam pernikahan.

6. Log Cutting Ceremony

Seperti namanya, log cutting ceremony adalah upacara memotong kayu di pesta pernikahan. Dalam bahasa jerman, upacara ini disebut juga dengan Baumstamm sägen

Dalam tradisi ini, setelah upacara pernikahan, pasangan diminta untuk memotong balok kayu bersama. Hal ini menyimbolkan kehidupan rumah tangga yang harus dihadapi oleh kedua pasangan dengan penuh kerja sama, komunikasi, dan kesabaran.

7. Jumping the Broom

Menurut Brides, tradisi ini punya akar sejarah di Wales, khususnya di kalangan komunitas Romani dan Welsh Kale yang tidak diakui secara resmi oleh gereja. Mereka menikah dengan cara “Besom Weddings”: pasangan harus melompati sapu yang diletakkan miring, dan jika sapu jatuh, pernikahan dianggap batal. Jika tidak, itu menjadi tanda bahwa hubungan mereka sah secara adat 

Secara simbolik, lompatan tersebut melambangkan menyapu masa lalu, mengusir energi negatif, dan memulai hidup baru sebagai satu kesatuan. 

Nah, itulah 7 tradisi pernikahan Eropa yang penuh dengan makna dan simbol-simbol yang melambangkan kesetiaan dan cinta kasih. Jika Anda tertarik untuk explore konten lain seputar bahasa dan budaya, yuk kunjungi halaman artikel pemad.or.id! Semoga informasi ini bermanfaat. 

 

Referensi

https://www.brides.com/story/handfasting-wedding-ceremony-101 

https://www.dmgceremonies.co.uk/post/unity-rituals-and-symbols-ideas-crowning-ceremony 

https://heartofncweddings.com/log-cutting-ceremony/ 

https://www.theknot.com/content/wedding-garter-tradition 

https://www.kompasiana.com/dewips/55281a4bf17e61f7178b45b0/der-polterabend-tradisi-pernikahan-ala-pengantin-eropa 

https://www.brides.com/jumping-the-broom-5071336 

 

Lusi Laksita Alfatkhu

Lulusan Sastra Inggris dengan peminatan linguistik yang sudah berpengalaman selama lebih dari 2 tahun di dunia artikel. Kini bekerja sebagai SEO Specialist - mengoptimasi artikel menjadi karya yang mudah ditemukan dan dibaca.

Share :