Bulan Ramadhan sangatlah spesial bagi umat muslim dan menjadi waktu terbaik untuk bertaubat dari segala kesalahan.[1][2] Namun, ada satu kesalahan yang justru banyak dilakukan orang Indonesia pada Ramadhan.
Bahkan, kesalahan ini juga sengaja dilakukan sejak awal artikel ini ditulis. Kesalahan yang sering orang Indonesia lakukan ini adalah penulisan kata “Ramadhan”.
Dari perspektif kebakuan, kata “Ramadhan” adalah bentuk yang salah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bentuk baku yang benar adalah “Ramadan”, tanpa huruf “h”.
Lalu, mengapa penulisan “Ramadhan” terasa lebih lazim dan enak dibaca? Apakah ini sekadar pengaruh kebiasaan bahasa Arab? Apakah ternyata ada proses kebahasaan yang lebih kompleks di belakangnya?
Untuk menjawabnya, kita perlu membahasnya dari beberapa aspek, yaitu (1) asal kata “Ramadan”, (2) bunyi yang muncul dalam kata tersebut, (3) alasan huruf “h” masih dipakai dalam “Ramadhan”, (4) alasan huruf “h” di tengah “Ramadhan” tidak baku, dan (5) contoh penulisan “h” pada kata baku dan tak baku lainnya.
Content :
Toggle1. Asal Kata Ramadan
Kata “Ramadan” merupakan serapan dari bahasa Arab رَمَضَانُ yang memiliki akar kata R-M-Ḍ (ر-م-ض). Akar kata ini berkaitan dengan makna “panas yang menyengat” atau “pasir panas yang terbakar matahari” dan itu sesuai dengan Ramadan yang mampu membakar dosa manusia.[3]
Namun, perhatian utamanya bukan pada artinya, melainkan pada bunyi Ḍ atau Ḍād yang berasal dari huruf ض.
Dalam ilmu fonologi, atau ilmu yang mempelajari bunyi bahasa, bunyi tersebut dilambangkan dengan /dˤ/. Bunyi ini disebut sebagai konsonan terfaringalisasi letup rongga-gigi bersuara. Namanya yang kompleks menunjukkan bahwa mengucapkan bunyi ini memang melibatkan mekanisme wicara yang cukup rumit.
2. Bunyi Ḍād yang Unik
Berdasarkan data tipologi fonologis atau klasifikasi bunyi, misalnya menurut Phioble.org, bunyi Ḍād atau /dˤ/ ini sangat jarang muncul di dunia.[4] Bahkan, dari total 7.170 bahasa alami di dunia, bunyi /dˤ/ ini secara historis dianggap sebagai ciri khas dari bahasa Arab saja.[5][6]
Keunikan bunyi /dˤ/ ini telah ada dalam kajian klasik bahasa Arab sejak abad ke-8 oleh Sibawaih dan karena itulah bahasa Arab disebut sebagai “bahasa Ḍād”.[6][7]
Kini, diketahui ada sebagian kecil bahasa lain yang menggunakan bunyi ini dan hampir semuanya terpengaruh oleh bahasa Arab, misalnya di:
- sejumlah rumpun bahasa Semit Tengah (termasuk Aramaik, Arab Yaman, dan Arab Maghrib/Darija di Tunisia, Libya, Aljazair, dan Maroko),
- beberapa bahasa dalam rumpun Berber (misalnya bahasa Tamazight di berbagai negara Afrika Utara, bahasa Kabyle di Aljazair dan bahasa Tashelhit di Maroko),
- dan sejumlah kecil bahasa Indo-Eropa (seperti bahasa Zazaki dan Kurdis), serta beberapa bahasa rumpun Kaukasus (contohnya bahasa Adyghe dan Kabardian di Rusia).[8][9][10][11]
Dari semua bahasa tersebut, keberadaan bunyi /dˤ/ di rumpun bahasa Berber dan Kaukasus ditengarai bukan karena pengaruh bahasa Arab. Berber berasal dari rumpun yang sama dengan bahasa Arab, yaitu rumpun Proto-Afro-Asia sehingga bahasa asal keduanya memang sama.
Di sisi lain, rumpun bahasa Kaukasus secara genealogi atau asal muasalnya terpisah dari rumpun Afro-Asiatik dan tidak memiliki hubungan kekerabatan langsung dengan bahasa Arab. Karena itulah bunyi yang sama di rumpun Kaukasus muncul karena kebetulan.[11][12]
Kemunculan bunyi atau fonem Ḍād yang jarang secara tipologi bahasa agaknya berkaitan dengan ciri khas faringalisasi yang butuh gerakan aktif pangkal lidah yang ditarik jauh menuju bagian belakang tekak.[13]
Hal itu belum cukup, bunyi ini masih butuh pita suara yang menghasilkan getaran udara dan letupan antara ujung lidah dengan gusi di belakang gigi atas depan.
3. Huruf “H” di dalam “Ramadhan”
Mengapa bunyi Ḍād tersebut harus dituliskan dengan menyertakan huruf “h”? Mengapa tidak huruf yang lain? Mengingat bunyi Ḍād atau /dˤ/ tidak ada di 33 bunyi bahasa Indonesia dan sangat unik di dunia, kemungkinan besar orang Indonesia secara otomatis mencari referensi bunyi yang hampir sama dengannya.[14]
Pencarian tersebut berlabuh pada bunyi /ɖ/ yang dapat ditemui di beberapa bahasa daerah di Indonesia.
Bunyi /ɖ/ memiliki karakter suara yang tebal, mirip seperti ketebalan pada bunyi /dˤ/. Cara menghasilkan bunyi /ɖ/ ini pun hampir sama dengan cara di bunyi /dˤ/. Yang membedakannya hanyalah bunyi /ɖ/ ini tercipta oleh lidah yang melengkung ke belakang dan menempel di langit-langit keras mulut, bukan oleh lidah yang menghalangi rongga faring dan menyentuh ujung gusi belakang gigi atas.
Oleh karena itu, /ɖ/ disebut sebagai konsonan letup retrofleks bersuara.
Secara tipologi bahasa, fonem /ɖ/ ini pun cukup jarang dan hanya 11% bahasa alami di seluruh dunia yang memiliki bunyi retrofleks.[15] Dari persentase yang kecil tersebut, sekurang-kurangnya ada 4 bahasa di Indonesia yang memiliki bunyi ini, yaitu bahasa Madura, Bali, Dhao, dan Jawa.[15][16][17][18]
Di 4 bahasa daerah tersebut, bunyi /ɖ/ biasa dituliskan dengan huruf “dh”. Pengecualian memang ada di bahasa Bali yang dalam huruf latinnya tidak menggunakan “dh”, tetapi aksara Bali tetap memakai“dh” sebagai hasil penggantian huruf atau transliterasi dari aksara Bali ke huruf Latin.[19][20][21]
Sistem penulisan atau ortografi inilah yang mungkin menjadi penyebab sebagian besar orang Indonesia menuliskan “Ramadhan” alih-alih “Ramadan”. Orang Indonesia menggunakan kata “Ramadhan” karena berusaha sesetia mungkin dengan bunyi aslinya di bahasa Arab dengan referensi sistem penulisan bunyi tebal dari bahasa daerah di Indonesia.
4. Ketiadaan Huruf “H” dalam “Ramadan”
Jika penulisan “h” untuk menandai bunyi yang dianggap tebal lazim ditemukan di sejumlah bahasa daerah di Indonesia, mengapa kata “Ramadhan” dengan “h” ini tidak baku? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami bahwa bahasa Indonesia memiliki sistem fonologi yang cukup berbeda dengan bahasa daerah di Indonesia.
Bahasa Indonesia sendiri tidak mengenal bunyi /dˤ/ yang tebal akibat terfaringalisasi ataupun /ɖ/ yang tebal karena retrofleks.[14] Fonem yang paling dekat dengan keduanya adalah /d/, yang merupakan konsonan letup rongga-gigi. Bunyi ini dituliskan dengan huruf “d” di bahasa Indonesia, seperti pada kata dapur, dandang, dan dadali, dsb.
Dalam proses adaptasi kata “Ramadhan” sebagai kata serapan, bahasa Indonesia cenderung menyesuaikan bunyi bahasa sumber dengan inventaris fonem yang sudah dimilikinya dan ortografi yang selama ini sudah dipakainya. Oleh karena itu, penulisan “Ramadan” dipandang sesuai dengan inventaris fonem yang ada tanpa perlu memasukkan huruf “h”.
5. Huruf “H” di Tengah Kata Lainnya
Bunyi tebal yang ditunjukkan oleh huruf “h” ini memang sering tidak ditampakkan dalam penulisan kata baku bahasa Indonesia. Berikut ini adalah beberapa kata baku dan tak baku dalam bahasa Indonesia menurut KBBI yang melibatkan huruf “h” di dalamnya.
| No. | Baku | Tidak Baku |
|---|---|---|
| 1 | Ramadan | Ramadhan |
| 2 | salat | shalat |
| 3 | gibah | ghibah |
| 4 | istigfar | istighfar |
| 5 | gaib | ghaib |
| 6 | Idulfitri | Idhul Fitri |
| 7 | silakan | silahkan |
| 8 | Katolik | Khatolik |
| 9 | ateis | atheis |
| 10 | nakhoda | nahkoda |
Dari sejumlah contoh di atas, terlihat bahwa kata hasil serapan bahasa Arab (misalnya salat, gibah, dan istigfar) dan bahasa Inggris (misalnya Katolik dan ateis) menghilangkan huruf “h” yang kemungkinan biasa ditulis untuk menunjukkan kemiripannya dengan bahasa asal.
Namun, ada huruf “h” yang menyusup di tengah kata dan itu dianggap baku dalam bahasa Indonesia, misalnya pada kata “nakhoda”.
Tentunya ini menimbulkan pertanyaan baru tentang alasan adanya kata baku yang menghilangkan huruf “h” dan kata baku yang tetap memakai huruf “h” di dalamnya. Perkara penyusupan huruf “h” pada kata baku tersebut berkaitan dengan bunyi di bahasa yang lain lagi.
6. Penutup
Dengan segala alasannya, “Ramadhan” merupakan kata tidak baku, sedangkan “Ramadan” menjadi kata baku. Pengguna bahasa hanya perlu menggunakan kebakuan tersebut dalam situasi yang tepat baik dalam kepenulisan ataupun penerjemahan. Namun, kalau kebakuan ini dirasa membingungkan, kiranya tetap menggunakan kata “Ramadhan” dengan “h” pun tidak menggagalkan pertaubatan Anda.
Sumber:
- Harahap, M. H. E. S. (2025, March 14). Keutamaan Bertaubat di bulan Ramadhan, sebagai momen penyucian diri. ANTARA. https://www.antaranews.com/berita/4710349/keutamaan-bertaubat -di-bulan-ramadhan-sebagai-momen-penyucian-diri
- Life With Allah. (n.d.). Ramadan: The Month of Forgiveness & Repentance. Life With Allah. www.lifewithallah.com/articles/seasons-of-worship/ramadan/the-month-of-forgiveness-and-repentance/
- Yahya, A. (n.d.). لماذا سمي شهر رمضان بهذا الاسم؟. AlJazeera Media Institute. www.learning.aljazeera.net/en/Blogs/%D9%84%D9%85%D8%A7%D8%B0%D8%A7-%D8%B3%D9%85%D9%8A-%D8%B4%D9%87%D8%B1-%D8%B1%D9%85%D8%B6%D8%A7%D9%86-%D8%A8%D9%87%D8%B0%D8%A7-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B3%D9%85
- Phoible. (n.d.). Consonant dˤ. https://phoible.org/parameters/1FCBA2F74274FF6CBC8636C9BAB 66A2F#5/26.156/12.770
- Ethnologue. (n.d.). How many languages are there in the world?. https://www.ethnologue.com/insights /how-many-languages/
- al-Rasyid, H. (2019). The characteristics of the letter of dād and the miracle of Al-Qur’an. KnE Social Sciences, 3(19), 261–267. https://doi.org/10.18502/kss.v3i19.4853
- Versteegh, K. (2003). The Arabic language (Repr. ed.). Edinburgh University Press.
- Hamdan, J. M., & Al-Hawamdeh, R. F. (2020). The Arabic /dˤ/ revisited: A critical review. KEMANUSIAAN: The Asian Journal of Humanities, 27(2), 17–38. https://doi.org/10.21315/kajh2020.27.2.2
- Kossmann, M. G., & Stroomer, H. J. (1997). Berber phonology. In A. S. Kaye (Ed.), Phonologies of Asia and Africa (pp. 461–475). Eisenbrauns.
- Buech, P., Hermes, A., & Ridouane, R. (2025). Pharyngealization in Tashlhiyt from kinematic and acoustic perspectives. Laboratory Phonology, 16(1). https://doi.org/10.16995/labphon.16727
- Anonby, E. (2020). Emphatic consonants beyond Arabic: The emergence and proliferation of uvular-pharyngeal emphasis in Kumzari. Linguistics, 58(1), 275–328. https://doi.org/10.1515/ling-2019-0039
- Kossmann, M. (2020). Proto-Berber phonological reconstruction: An update. Linguistique et Langues Africaines, 11–42. https://doi.org/10.4000/lla.277
- Al-Solami, M. A. (2017). Ultrasound study of emphatics, uvulars, pharyngeals and laryngeals in three Arabic dialects. Canadian Acoustics, 45(1), 25–33. https://jcaa.caa-aca.ca/index.php/jcaa/article/view/2603
- Rahayu, P. S., Mutiara, E., & Rismayanti. (2023). Analisis bunyi bahasa Indonesia: Fonetik dan fonemik. Sintaksis: Publikasi Para Ahli Bahasa dan Sastra Inggris, 1(4), 54–60. https://doi.org/10.61132/sintaksis.v1i4.223
- Hamann, S., & Fuchs, S. (2008). How do voiced retroflex stops evolve? Evidence from typology and an articulatory study. ZAS Papers in Linguistics, 49, 97–130. https://doi.org/10.21248/zaspil.49.2008.366
- Mukhlis, A., Hidayati, F. N., Aldiansyah, M. A., & Hakiki, L. R. (2024). Representasi bahasa Madura pada masyarakat Pandalungan Lumajang dalam kajian fonetis. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan Sastra, 10(2). https://e-journal.my.id/onoma
- Dhanawaty, N. M. (2021). Kuatnya jejak ke-Austronesia-an pada bahasa Bali dialek Bali Aga. Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies), 11(1).
- Enunciate. (n.d.). /ɖ/ Voiced Retroflex Plosive (Right-tail D) . https://enunciate.arts.ubc.ca/%C9%96/
- Balai Bahasa Provinsi Bali. (2013). Pedoman umum ejaan bahasa Bali dengan huruf Latin. Balai Bahasa Provinsi Bali.
- Bawa, I W., Duarsa, I N. S., Jendra, I W., Sulaga, I N., & Suasta, I B. M. (1984). Sistim perulangan bahasa Bali. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. (1997). Modernisasi dan pelestarian: Perkembangan metode dan teknik penulisan aksara Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.









